[Jatuh Bangun Aku]

   
Diambil oleh Kominfo 2020

   Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagaimana aku bisa mendapatkan kesempatan mengibarkan Sang Saka Merah-Putih, dimulai dari tingkat kecamatan (2018) hingga kabupaten (2019 & 2020). Mengapa tidak pernah terbayangkan(?), mungkin karena saya di SMP saja pernah ikut seleksi ekstrakurikuler PBB dan gagal hingga tidak terpikirkan untuk ikut PBB lagi.

    Pada waktu SMA kelas 10 itu pasca gagal aku cuma iseng ikut seleksi Paskec di SMA, "pokok e melu, urusan katut ora keri!", gumamku dalam hati. Aku berpikir begitu mungkin karena diriku pernah gagal dan juga perihal baris-berbaris aku nggak begitu paham karena aku kalau mendapat sesuatu hal pasti lola (loading lama), heuheuheu. Tetapi dugaanku salah, justru aku malah ketrima yah walaupun rankingnya nggak begitu bagus amat. Setelah aku ketrima aku b aja sih ya, soalnya aku juga masih belum paham baris-berbaris. Namun dengan ini menyatakan bahwa saya akan bersungguh dan gigih dalam melaksanakan latihan untuk mengibarkan benderalah pastinya. Hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit pun dilalui, aku mulai paham tentang baris-berbaris walaupun masih payah dibandingkan lainnya yang sudah pernah ikut PBB di SMP. Finally, H-10 pengibaran aku terpilih masuk ke pasukan 8. Aku kaget, soalnya aku saja jarang masuk pleton favorit, dan dalam hatiku "ojo seneng sik, soale esih digeser, xixi!". Sampai hari H aku berada di pasukan 8 dan Alhamdulillah pengibaran berlangsung lancar, sukses, bahagia, haru bercampur-aduk saking tidak bisa membendung bahagianya kala itu.

   Semenjak itu aku diajak temanku ikut ekstra PBB meskipun lebih tepatnya dipaksa. Akhirnya aku ikut dan entah mengapa temanku yang ngajak malah keluar sendiri aku malah mampu bertahan sampai menjadi demisioner dan mendapatkan kesempatan sekali untuk mengikuti lomba baris-berbaris. Di ekstrakurikuler walaupun aku nggak begitu rajin, tetapi entah mengapa aku merasa senang karena bisa memiliki keluarga baru, mengenal karakter antara satu dengan lainnya, dan tentunya ada banyak kenangan yang terekam dengan rapi di memori, yah walaupun dramanya juga banyak, heuheu.

  Di ekstrakurikuler aku mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi Paskab. Tahap demi tahap aku lewati mulai di SMA dan dengan siswa SMA lain mulai dari postur, wawasan kebangsaan, minat bakat, baris-berbaris hingga Samapta. Dan lagi-lagi memetik kegagalan setelah hanya sampai pada tahap Pantukhir (Seleksi Penilaian Panitia Penentu Akhir) setelah mendapat ranking 41 dari 40 yang diambil, yang dimana sebelumnya yakin dinilai baris-berbaris mendapatkan nilai tinggi malah jeblok dan ternyata dugaanku meleset jauh. Sedih tetapi yasudah karena sudah ditakdirkan-Nya juga. Tidak angin tidak ada hujan setelah aku sudah mulai lupa tiba-tiba ibuku ditelepon dan diberi tahu bahwa ada yang mengundurkan diri dari Capaskab sehingga aku diminta menjadi penggantinya, alhamdulillah ketrima jalur undangan. Selanjutnya aku ikut latihan jalur akselerasi karena lainnya sudah latihan sebulan, wkwk. Aku berada di pasukan manapun menerima karena cuma jalur pilihan kedua aja muluk-muluk, eh malah aku menjadi danton pasukan pengibaran bendera 2019.

   Di tahun 2020, alhamdulillah lagi dengan jalur "mbuh bejo opo bejane" yang pasti karena kebaikan-Nya aku diberi kesempatan untuk ketiga kali mengibarkan Sang Saka Merah-Putih dengan menjadi pembentang bendera pengibaran pagi.

   Dari kegagalan-kegagalan yang aku pikir menjadi kegagalan total aku malah belajar bahwa "mungkin trek record kegagalanku dalam setiap fase yang aku jalani merupakan sebuah pijakan kuat yang bisa membuatku melompat lebih tinggi", pastinya disertai do'a dan dukungan dari kedua orang tuaku yang tak henti-hentinya tanpa saya minta yang memberi energi dan pondasi kekuatan dalam setiap fase yang aku jalani.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hening Malam Kepala Dua

[Mencari Titik Terjauh]